Bandara Soetta Uji Coba Insinerator Sampah 20 Ton Sehari. Tidak Ada yang Berubah bagi Penerbangan Anda
Status: uji coba, berjalan di belakang terminal. Tidak ada yang perlu dilakukan penumpang.
Bandara Soekarno-Hatta memulai Proof of Concept pada Selasa 22 September 2026 untuk insinerator berkapasitas hingga 20 ton sampah per hari. Mesinnya berada di area layanan bandara, bukan di terminal. Penerbangan, check-in, pemeriksaan keamanan, tempat sampah, dan kebersihan tidak terdampak, dan tidak ada perubahan pengalaman penumpang yang diumumkan. Cek papan keberangkatan langsung seperti biasa sebelum berangkat — untuk alasan yang sama sekali tidak berhubungan.
Jika Anda terbang lewat Jakarta pekan ini, versi singkatnya: berita ini tidak menyentuh Anda. Sebuah mesin dinyalakan di area layanan di belakang terminal Bandara Soekarno-Hatta, dan mesin itu akan membakar sebagian sampah bandara sementara sekelompok kecil teknisi mengawasinya. Terminal, gate, dan tempat sampah yang Anda lewati sama persis seperti kemarin. Versi panjangnya tetap layak dibaca sepuluh menit, karena berkaitan dengan bandara yang baru saja meraih penghargaan kebersihan, dan dengan perdebatan di Indonesia soal apakah membakar sampah layak disebut mengelola sampah.
Apa yang sebenarnya terjadi pada 22 September
Pada Selasa 22 September 2026, tiga perusahaan memulai Proof of Concept di Bandara Soekarno-Hatta untuk insinerator bernama PARK PYRO Series, dengan kapasitas hingga 20 ton sampah per hari.
Ketiganya adalah PT Park Tahta Berjaya selaku pemasok mesin; PT Angkasa Pura Indonesia, BUMN pengelola bandara yang berjenama InJourney Airports dan menjalankan CGK; serta PT IAS Support Indonesia, lini layanan fasilitas dari InJourney Aviation Services, yang petugasnya akan mengoperasikan mesin itu. Persiapannya berjalan sejak Maret 2026 — koordinasi teknis, instalasi mesin, pengujian, dan pelatihan operator.
Proof of Concept bukan peresmian. Ini tahap sebelum siapa pun memutuskan untuk membeli. “Proses POC ini tidak hanya berhenti sampai di sini. Kami akan terus melakukan evaluasi,” kata Gani Wijaya, Deputy General Manager Airport Facility, Equipment & Technology Services CGK. “Harapannya, penerapan teknologi ini juga dapat menjadi salah satu percontohan untuk pengelolaan sampah di bandara-bandara lainnya di Indonesia.”
Bacalah pelan-pelan dan Anda akan menyadari apa yang tidak ada di sana. Tidak ada tanggal berakhirnya uji coba. Tidak ada kriteria evaluasi. Tidak ada komitmen memasang unit itu secara permanen. Tidak ada nilai biaya, nilai kontrak, atau lokasi yang disebut di dalam kawasan bandara. Ketiadaan itu bukan hal mencurigakan — wajar pada tahap ini — tetapi itulah yang membedakan uji coba dari fasilitas, dan pemberitaan pekan ini tidak selalu menegaskan perbedaan tersebut.
Sampai di mana proyek ini sebenarnya
| Kapan | Apa |
|---|---|
| Maret 2026 | PT Park Tahta Berjaya, PT Angkasa Pura Indonesia, dan PT IAS Support Indonesia memulai koordinasi teknis — instalasi mesin, pengujian, pelatihan operator, dan persiapan operasional. |
| Sebelum pemasangan | PT Sucofindo, BUMN inspeksi dan sertifikasi, mengukur emisi unit ini. Para perusahaan menyatakan hasilnya memenuhi parameter emisi yang diuji di Indonesia. |
| Selasa 22 September 2026 | Proof of Concept resmi dimulai di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Lokasi persisnya di dalam kawasan bandara tidak diumumkan. |
| Belum diumumkan | Berapa lama uji coba berjalan, apa kriteria evaluasinya, kapan hasilnya diumumkan, dan apakah unit ini akan tetap dipakai. Ketiga perusahaan belum menyampaikan satu pun dari hal ini. |
Dua puluh ton dari berapa?
Inilah angka yang menempatkan berita ini pada proporsinya, dan justru angka inilah yang belum dipublikasikan siapa pun belakangan. Bandara Soekarno-Hatta tidak merilis angka terkini berapa banyak sampah yang dihasilkannya.
Rujukan terbaru yang bisa kami temukan adalah laporan Tempo pada November 2023 tentang SAI Hijau, organisasi masyarakat pengelola sampah yang menjalankan fasilitas pemilahan seluas 1.000 m² di sisi utara landas pacu. Laporan itu menyebut sekitar 30 ton per hari sampah domestik bandara masuk ke lokasi tersebut dan ditangani dengan konsep “zero waste to landfill” — dipilah, plastiknya dipres dan dijual untuk didaur ulang. Lebih lama lagi, laporan detikFinance pada 2014 menyebut total 39 ton per hari, dengan 27 ton berasal dari pesawat, bukan dari area sisi darat yang dilewati penumpang.
Kedua angka itu lahir sebelum pemulihan jumlah penumpang dan revitalisasi Terminal 1, jadi perlakukan sebagai kisaran, bukan hasil pengukuran. Yang jelas dari keduanya: mesin 20 ton per hari adalah porsi besar dari sampah CGK, bukan seluruhnya, dan bandara sudah punya alur pengelolaan sampah yang berjalan, yang akan berdampingan atau sebagian digantikan oleh mesin ini. Baik bandara maupun perusahaan pelaksana belum menjelaskan yang mana.
Pembagian antara sampah pesawat dan sisi darat juga penting, karena keduanya persoalan berbeda. Sampah kabin dari penerbangan internasional adalah soal biosekuriti, bukan sekadar soal sampah — produk pangan, tumbuhan, dan hewan yang diserahkan di area kedatangan masuk ke quarantine bin dan dimusnahkan petugas Badan Karantina sesuai Pasal 54 UU Nomor 21 Tahun 2019, lewat jalur yang terpisah sama sekali. Materi yang dipublikasikan soal uji coba ini tidak menyebut aliran sampah mana yang akan masuk ke mesin. Itu pertanyaan terbuka yang nyata soal untuk apa sebenarnya mesin ini.
Mesinnya seperti apa
PARK PYRO adalah rancangan insinerator asal Korea Selatan yang dipasok di Indonesia oleh PT Park Tahta Berjaya. Menurut direkturnya, Anatolia Gita, sampah melewati tiga chamber pembakaran secara berurutan sebelum gas buangnya sampai ke tahap penyaringan. “Chamber pertama itu pembakaran, kemudian dibakar lagi ke chamber kedua dan ketiga. Setelah tiga kali pembakaran, baru masuk ke filter,” kata Gita kepada ANTARA pada Agustus 2026.
Perusahaan menyebut unit ini mencapai sekitar 1.600°C, dan gas hanya dipakai untuk memantik pembakaran, bukan menjaganya, sehingga biaya operasional didominasi listrik. Emisi melewati bag filter, karbon aktif, dan dust collector. Klaim teknis utama Gita adalah soal suhu: “Di suhu 1.200 derajat Celsius itu sudah bisa menghancurkan dioksin.”
Ini bukan pemasangan pertamanya di Indonesia. Dua unit berkapasitas 10 ton per hari beroperasi di Mataram, dan satu unit 20 ton di Gili Trawangan, pulau wisata di Lombok, yang dioperasikan Yayasan FMPL. Pemasangan itu memberi pelajaran ke dua arah. Pulau tersebut menghasilkan sekitar 22 ton sampah per hari saat musim ramai, jadi kapasitas unitnya pas dengan masalahnya — tetapi ANTARA melaporkan pada Agustus 2026 bahwa FMPL kesulitan memenuhi tiga shift yang dibutuhkan untuk menjalankannya 24 jam, padahal itulah asumsi di balik angka 20 ton. Laporan yang sama mencatat dua insinerator lain berkelas domestik di lokasi yang sama ditutup dinas lingkungan hidup setempat karena mengeluarkan asap hitam pekat saat diuji.
Dengan kata lain: teknologinya punya rekam jejak, dan begitu pula kategori umum insinerator kecil yang dipasang lalu gagal memenuhi syarat regulator setempat. Uji coba di bandara adalah cara yang masuk akal untuk mengetahui unit ini termasuk yang mana.
Siapa mengklaim apa, dan seberapa kuat klaimnya
“Zero waste, zero emisi” banyak dipakai dalam pemberitaan pekan ini, jadi klaim-klaimnya perlu dipisahkan dan disebutkan asalnya masing-masing.
| Klaim | Siapa yang menyatakan | Seberapa kuat |
|---|---|---|
| “Zero waste, zero emisi” | Ketiga perusahaan pelaksana uji coba, dalam pengumuman bersama | Cita-cita program, bukan hasil pengukuran. Belum ada penilaian independen atas emisi bersihnya. |
| Membakar tanpa menghasilkan asap | PT Park Tahta Berjaya | Deskripsi rancangan dari pabrikan. Gas buang yang tak terlihat bukan berarti bersih — polutan yang dikhawatirkan pada insinerasi umumnya memang tidak kasatmata. |
| Memenuhi baku mutu emisi Indonesia | Pengujian PT Sucofindo, dikutip para perusahaan | Pengujian pihak ketiga yang sungguhan oleh lembaga inspeksi standar di Indonesia. Pemberitaan yang ada tidak menyebut polutan apa saja yang diukur, pada beban operasi berapa, dan pada unit yang mana. |
| Mencapai ~1.600°C; dioksin hancur di atas 1.200°C | Anatolia Gita, Direktur PT Park Tahta Berjaya | Ambang 1.200°C secara umum sejalan dengan literatur teknik insinerasi. Yang lebih sulit dijawab adalah apakah sebuah unit benar-benar menahan suhu itu dalam operasi nyata, dengan sampah campuran yang basah — dan itu tidak dibahas dalam materi yang dipublikasikan. |
| Jadi percontohan untuk bandara lain | Gani Wijaya, Deputy General Manager Airport Facility, Equipment & Technology Services CGK | Disampaikan sebagai harapan, bukan rencana. Belum ada bandara lain yang disebut, dan belum ada anggaran atau jadwal. |
Pengujian emisi pantas mendapat catatan tersendiri, karena inilah satu-satunya unsur yang benar-benar independen. PT Sucofindo adalah BUMN inspeksi, pengujian, dan sertifikasi, dan menjadi lembaga standar untuk pekerjaan semacam ini di Indonesia; sertifikat Sucofindo bukan siaran pers. Namun yang disertifikasi adalah bahwa polutan terukur berada dalam batas baku mutu Indonesia pada parameter yang diuji — hasil kepatuhan, bukan temuan bahwa mesinnya tidak mengeluarkan emisi apa pun. Materi yang dipublikasikan tidak menyebut polutan apa saja yang diukur, pada beban operasi berapa, atau pada unit yang mana.
Konteks yang perlu diketahui: pada hari yang sama uji coba di CGK dimulai, Sucofindo juga menyerahkan empat penghargaan inovasi lingkungan dan sosial ENSIA 2026 miliknya kepada InJourney Airports — untuk Padang, Banyuwangi, Solo, dan Balikpapan. Soekarno-Hatta tidak termasuk. Itu bukan konflik kepentingan, tetapi mengingatkan betapa kecilnya lingkaran lembaga di Indonesia yang menguji, memberi penghargaan, sekaligus menjalankan program semacam ini.
Insinerasi masih diperdebatkan di sini, dan itu relevan
Bandara yang mengumumkan insinerator sampah di Indonesia pada 2026 sedang melangkah ke tengah perdebatan nasional yang masih hidup, dan pembaca lebih terbantu bila mengetahuinya.
Pemerintah terus memperluas pengolahan sampah termal. Perpres 35/2018 dan 109/2025 menetapkan PLTSa sebagai proyek strategis nasional, dan programnya berkembang dari tujuh kota awal menjadi target 30 kota. Itu pembangkit listrik berskala besar, bukan unit 20 ton seperti di CGK, tetapi merekalah yang membentuk arah kebijakannya.
Keberatannya konsisten dan datang dari organisasi yang mapan. Aliansi Zero Waste Indonesia, mengutip peneliti hukum Fajri Fadhillah dari Indonesian Center for Environmental Law, menyebut insinerator melepas dioksin — senyawa yang mereka sebut paling beracun yang dikenal — bersama merkuri dan partikulat halus, sementara abu sisanya masuk kategori limbah B3 yang penanganannya justru lebih mahal. Kampanye WALHI, lewat Wahyu Eka Styawan, menyebut PLTSa sebagai “solusi palsu”. Yuyun Ismawati dari Nexus3 menyatakan warga dalam radius lima kilometer dari insinerator menanggung risiko kanker yang lebih tinggi.
Dua keberatan teknis berkaitan langsung dengan uji coba ini. Pertama soal komposisi: sampah Indonesia didominasi sisa makanan organik berkadar air tinggi, yang sulit terbakar dan, menurut para pengkritik, membutuhkan bahan bakar tambahan yang menaikkan emisi. Sampah bandara memang tidak sama dengan sampah kota — lebih banyak kemasan dan kertas — tetapi tidak ada yang mempublikasikan rincian komposisi sampah CGK, jadi ini tidak bisa dipastikan dari informasi publik.
Kedua soal pemantauan. Aturan di Indonesia hanya mewajibkan uji dioksin sekali setiap lima tahun, dengan biaya sekitar US$1.500–5.000 per sampel. Uji komisioning sekali jalan, sebaik apa pun dikerjakan, hanya bercerita tentang mesin pada hari ia diuji. Apakah sebuah unit masih berkinerja sama setelah tiga tahun membakar sampah campuran yang basah dengan perawatan sistem shift adalah justru pertanyaan yang tak terjawab oleh pengujian lima tahunan. Kalau CGK benar-benar mengadopsi mesin ini secara permanen, yang layak ditanyakan adalah rezim pemantauannya, bukan sertifikat komisioningnya.
Argumen sebaliknya juga tidak enteng, dan justru itulah alasan uji coba semacam ini dilakukan: alternatif realistis bagi banyak sampah di Indonesia adalah penimbunan atau pembakaran terbuka, yang jauh lebih buruk daripada unit bersuhu tinggi dengan filter. Tidak ada pihak dalam cerita ini yang sedang memilih antara insinerator dan sistem yang sempurna.
Kaitannya dengan penghargaan kebersihan CGK
Lima hari sebelum uji coba dimulai, Bandara Soekarno-Hatta mempublikasikan dua penghargaan Airport Service Quality dari ACI, termasuk bandara terbersih di Asia-Pasifik. Kedua berita ini berkaitan, tetapi tidak seperti yang disiratkan urutannya.
Penghargaan kebersihan ASQ berasal dari penilaian penumpang atas apa yang mereka lihat: lantai, toilet, apakah tempat sampah meluber pada pukul 06.00. Penghargaan itu tidak mengatakan apa pun tentang nasib isi tempat sampah setelah petugas kebersihan membawanya pergi. Uji coba insinerator justru sepenuhnya soal paruh kedua itu, dan tidak akan mengubah satu pun hal yang ditanyakan dalam survei penumpang.
Kalau suatu saat ini benar-benar terasa bagi pelancong, jalannya lewat ujung yang kasatmata dari sistem yang sama: tempat sampah terpilah yang benar-benar bermuara pada pengolahan terpilah, petunjuk pemilahan yang berarti, dan terminal yang tetap tidak meluber. Itulah versi jujur dari “apa artinya bagi Anda” — sebuah kemungkinan, beberapa tahun lagi, yang bergantung pada uji coba yang hasilnya belum dilaporkan siapa pun.
Apa artinya bagi perjalanan Anda
- Sekarang: tidak ada. Tidak ada terminal, gate, tempat sampah, antrean, atau penerbangan yang terpengaruh. Tidak perlu mengubah apa pun.
- Kualitas udara di bandara tidak berubah karena ini. Tidak ada data pemantauan yang dipublikasikan terkait uji coba, dan lokasinya pun belum diumumkan. Satu-satunya masalah kualitas udara yang terukur di CGK bulan ini bersifat vulkanik, bukan industri — Kementerian Kesehatan mencatat PM2,5 sebesar 63 µg/m³ di terminal bus DAMRI pada 8–9 September 2026 setelah erupsi Anak Krakatau, terhadap ambang 25 µg/m³.
- Kalau Anda biasa memilah sampah, teruskan. Pemilahan dari sumber adalah bagian sistem pengelolaan sampah yang bergantung pada penumpang, dan bagian itu tetap bekerja entah mesin di belakang terminal jadi dibeli atau tidak.
- Anggap penerapan di bandara lain sebagai harapan. Pihak bandara menyampaikannya sebagai harapan, bukan rencana. Belum ada bandara lain yang disebut, dianggarkan, atau dijadwalkan.
- Jadwal proyek bandara biasa meleset. Sekalipun uji coba berhasil dan unitnya dibeli, pengadaan, perizinan, dan pemasangan di bandara milik negara memakan waktu bertahun-tahun, bukan bulanan. Bukan sesuatu yang bisa dipakai merencanakan perjalanan.
Yang belum diketahui
Kami bertanya pada diri sendiri, apa yang ingin diketahui pembaca tetapi tidak ada dalam materi yang dipublikasikan — dan daftarnya lebih panjang daripada beritanya sendiri:
- Berapa lama Proof of Concept berjalan, dan dengan kriteria apa.
- Di bagian mana kawasan bandara unitnya dipasang.
- Aliran sampah mana yang masuk ke mesin — sampah domestik sisi darat, sampah kabin sisi udara, atau keduanya.
- Ke mana abu hasil pembakarannya, dan apakah ditangani sebagai limbah B3.
- Bagaimana nasib operasi pemilahan SAI Hijau yang sudah berjalan, dan apakah ada yang tergantikan.
- Polutan apa saja yang diukur Sucofindo, dan pada beban berapa.
- Berapa biayanya, dan apakah pembelian memang direncanakan.
Tidak satu pun dari itu disembunyikan; semuanya hanya belum ditanyakan secara terbuka. Kami akan memperbarui artikel ini bila ada yang terjawab.
Tanya jawab
Apakah ini memengaruhi penerbangan atau waktu saya di terminal?
Tidak. Insinerator itu unit uji coba di area layanan bandara, di belakang terminal. Penerbangan, check-in, pemeriksaan keamanan, gate, tempat sampah, dan kebersihan tidak berubah sama sekali. Tidak ada satu pun bagian dari perjalanan Anda melalui CGK yang berbeda karena mesin ini.
Insinerator ini sudah beroperasi atau masih uji coba?
Masih Proof of Concept, yang dimulai InJourney Airports bersama mitranya pada Selasa 22 September 2026. Artinya uji coba terawasi untuk melihat apakah mesin, prosedur operasi, dan petugasnya cocok dipakai di lingkungan bandara. Belum ada pengumuman soal kapan uji coba berakhir, apa hasil evaluasinya, atau apakah unit ini akan dipasang permanen.
Berapa banyak sampah yang dihasilkan Bandara Soekarno-Hatta?
Belum ada angka terbaru yang dipublikasikan. Rujukan terdekat yang kami temukan adalah laporan Tempo pada November 2023, yang menyebut sekitar 30 ton sampah domestik bandara per hari masuk ke fasilitas pemilahan di sisi utara landas pacu. Laporan detikFinance yang jauh lebih lama, dari 2014, menyebut 39 ton per hari, 27 ton di antaranya berasal dari kabin pesawat. Bagaimanapun, mesin 20 ton per hari adalah bagian besar dari sampah bandara, bukan seluruhnya.
Apa itu PARK PYRO dan siapa pembuatnya?
Ini seri insinerator asal Korea Selatan yang dipasok di Indonesia oleh PT Park Tahta Berjaya. Sampah melewati tiga chamber pembakaran, mencapai sekitar 1.600°C menurut perusahaan, sebelum gas buangnya melewati bag filter, karbon aktif, dan dust collector. Gas hanya dipakai sebagai pemantik, bukan untuk menjaga api tetap menyala. Model yang sama sudah berjalan di Gili Trawangan, Lombok, ditambah dua unit 10 ton di Mataram.
Apakah klaim “zero emisi” sudah diverifikasi pihak independen?
Belum. Frasa “zero waste, zero emisi” datang dari perusahaan-perusahaan yang menjalankan uji coba ini, dan menggambarkan cita-cita, bukan hasil pengukuran. Yang benar-benar diuji pihak ketiga jauh lebih sempit: PT Sucofindo, BUMN inspeksi dan sertifikasi, mengukur emisi unit ini terhadap baku mutu Indonesia dan menyatakan hasilnya memenuhi parameter yang diuji. Itu uji kepatuhan atas polutan tertentu, bukan temuan bahwa mesinnya tidak mengeluarkan emisi apa pun.
Apakah membakar sampah memang solusi yang baik?
Masih diperdebatkan di Indonesia, dan itu penting diketahui saat membaca pengumuman ini. Aliansi Zero Waste Indonesia, WALHI, dan Indonesian Center for Environmental Law menolak insinerator karena emisi dioksin, merkuri, dan partikulat halus, serta abu sisa pembakaran yang masuk kategori limbah B3. Mereka juga menyoroti aturan Indonesia yang hanya mewajibkan uji dioksin sekali setiap lima tahun. Pendukungnya berargumen unit bersuhu tinggi dengan filtrasi menghancurkan dioksin dan lebih baik daripada pembakaran terbuka atau penimbunan. Pemerintah sendiri menetapkan PLTSa sebagai proyek strategis nasional lewat Perpres 35/2018 dan 109/2025.
Apakah udara di bandara jadi lebih buruk?
Tidak ada data pemantauan yang dipublikasikan, dan lokasi unitnya pun belum diumumkan. Tidak ada indikasi uji coba ini mengubah kualitas udara luar ruang di CGK. Satu-satunya masalah kualitas udara yang terdokumentasi di bandara bulan ini datang dari hal lain — pemantauan Kementerian Kesehatan pada 8–9 September 2026 mencatat PM2,5 sebesar 63 µg/m³ di terminal bus DAMRI setelah erupsi Anak Krakatau, terhadap ambang aman 25 µg/m³.
Apakah penumpang akan melihat perubahan suatu saat nanti?
Mungkin, tetapi tidak dalam waktu dekat dan tidak langsung dari mesin ini. Jika uji coba ini berujung pada pengolahan sampah permanen di lokasi, yang terlihat penumpang ada di terminal — tempat sampah terpilah, petunjuk pemilahan yang lebih jelas, dan kebersihan yang selama ini dinilai tinggi dalam survei penumpang ACI. Tidak ada satu pun dari itu yang sudah diumumkan, dan tidak ada tenggat yang disebutkan.
Baca juga
- CGK raih dua penghargaan ACI — apa yang sebenarnya diukur penghargaan kebersihan itu, dan apa yang tidak.
- Anak Krakatau dan penutupan CGK — sumber angka kualitas udara bandara yang dirujuk di atas.
- Terminal & layanan — apa saja yang ada di Terminal 1, 2, dan 3.
- Keberangkatan langsung dan kedatangan langsung — cara tercepat mengecek penerbangan Anda.