Bandara Jakarta (CGK) Sudah Buka — Lalu Kenapa Penerbangan Masih Banyak Delay dan Batal?

Diagram berjudul “Three hazards, one airport” dengan subjudul “What has been disrupting flights through Soekarno-Hatta, mid-August to 14 September 2026”. Panel di kiri menandai CGK Soekarno-Hatta sebagai terbuka dan beroperasi normal sejak 8 September, dengan tiga garis penghubung ke kartu bertumpuk: kabut asap karhutla di enam bandara Kalimantan, berstatus berlangsung, dengan 22 penerbangan CGK dibatalkan pada 13 September dan 8 delay pada 14 September; abu Anak Krakatau, 6–8 September; dan abu Gunung Sinabung yang berdampak ke Kualanamu, 1 September.
Tiga gangguan yang tidak saling berkaitan mengganggu penerbangan CGK antara pertengahan Agustus dan pertengahan September 2026. Hanya satu — Anak Krakatau — yang berada dekat Jakarta; dua lainnya menutup bandara di ujung rute. Angka sesuai yang dikutip dalam artikel. Gambar: Jakarta Airport CGK Guide

Status, Senin 14 September 2026: CGK terbuka dan beroperasi normal. Rute Kalimantan masih terganggu — 8 penerbangan delay hari ini.

Soekarno-Hatta menjalankan jadwal penuh sejak dibuka kembali tepat setelah tengah malam pada Selasa 8 September 2026. Yang masih mengganggu penerbangan adalah kabut asap karhutla di bandara tujuan. Bandara mencatat 8 penerbangan delay hingga pukul 16.00 WIB pada Senin 14 September setelah jarak pandang di Pontianak dan Palangkaraya turun di bawah batas minimum, sehari setelah 22 penerbangan CGK–Kalimantan dibatalkan dan 2 delay pada Minggu 13 September. Soekarno-Hatta mengaktifkan prosedur Service Recovery Activation. Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga), sehingga penutupan ulang mungkin terjadi meski tidak diperkirakan. Jika penerbangan Anda dibatalkan, hak Anda adalah refund atau reschedule gratis, bukan kompensasi keterlambatan. Cek papan keberangkatan langsung sebelum berangkat.

Kalau bulan ini Anda terbang lewat Jakarta dan jadwal penerbangan terus bergeser, bandaranya kemungkinan besar bukan sumber masalah. Soekarno-Hatta beroperasi penuh sejak 8 September 2026. Namun penerbangan yang melewatinya nyaris terus-menerus dibatalkan sejak pertengahan Agustus, karena tiga penyebab yang tidak saling berkaitan — dan dua di antaranya berjarak ratusan kilometer dari Jakarta. Kebiasaan paling berguna saat ini adalah berhenti memeriksa cuaca Jakarta dan mulai memeriksa cuaca di ujung rute Anda.

Empat gangguan dalam empat pekan

Penerbangan Indonesia melewati akhir Agustus dan awal September 2026 yang luar biasa buruk. Keempat gangguan ini saling tumpang tindih, dan itulah sebabnya papan keberangkatan CGK terlihat begitu membingungkan.

Penyebab Lokasi Waktu Dampak ke penerbangan CGK
Kabut asap karhutla Kalimantan — Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikpapan, Sampit, Singkawang Pertengahan Agustus 2026 hingga kini, berulang Jarak pandang di bandara tujuan turun di bawah batas pendaratan. 43 penerbangan CGK–Kalimantan dibatalkan pada 22–23 Agustus; 30 dibatalkan di Pontianak saja pada 12 September; 22 dibatalkan dan 2 delay pada rute CGK–Kalimantan pada 13 September; 8 delay pada 14 September.
Abu Anak Krakatau Selat Sunda, sekitar 150 km barat Jakarta 6–8 September 2026 CGK sendiri tutup dua hari bersama tujuh bandara lain. Sekitar 2.961 penerbangan terdampak menurut hitungan Kemenhub.
Antrean pemulihan pascapenutupan CGK, dan di mana pun pesawat terparkir 8–9 September 2026 Pesawat dan kru tidak berada pada posisi semestinya setelah penutupan. Delay dan pembatalan sporadis di Terminal 1, 2, dan 3, tidak terkait abu vulkanik.
Abu Gunung Sinabung Sumatera Utara — Kualanamu (KNO), Medan 1 September 2026 15 penerbangan CGK–Kualanamu dibatalkan dan 14 delay, sekitar 5.350 penumpang terdampak.

Hanya penutupan akibat Anak Krakatau yang benar-benar menutup CGK, dan peristiwa itu kami bahas lengkap dalam kronologi penutupan dua hari. Sisa artikel ini membahas gangguan yang masih berlangsung.

Kenapa delay tidak berhenti begitu bandara dibuka

CGK kembali beroperasi tepat setelah tengah malam pada Selasa 8 September. Papan keberangkatan pagi itu masih menampilkan status “Dibatalkan” di Terminal 1B untuk Lion Air, NAM Air, dan Sriwijaya Air, serta delay sepanjang hari. Dugaan yang paling mudah diambil — bahwa abu vulkanik masih jadi penyebabnya — keliru.

Menurut Yudistiawan, Asisten Deputi Communication & Legal Kantor Cabang Utama Bandara Internasional Soekarno-Hatta, keterlambatan itu hampir seluruhnya berada di sisi operasional maskapai. Kepada Kompas pada 8 September, ia menjelaskan bahwa “delay itu karena beberapa persiapan maskapai, antara lain mereka memastikan aircraft-nya itu aman” untuk digunakan, melakukan rotasi pesawat, lalu menyiapkan krunya.

Inilah bagian dari penutupan yang bertahan lebih lama daripada gangguannya sendiri. Jadwal maskapai adalah rantai: pesawat yang terbang Jakarta–Surabaya pukul 07.00 adalah pesawat yang malam sebelumnya datang dari Denpasar, dan krunya hanya boleh bertugas dalam batas jam tertentu. Dua hari penutupan meninggalkan pesawat terparkir di bandara yang salah dan kru yang kehabisan jam terbang di kota yang salah — dan langit yang kembali bersih tidak memperbaiki itu seketika. Sampai tengah hari 8 September, bandara sudah melayani 324 penerbangan — 208 keberangkatan dan 116 kedatangan — sambil memproses antrean penumpang yang mengajukan penjadwalan ulang.

Yudistiawan juga menyampaikan hal yang layak diingat: peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi di Soekarno-Hatta, sehingga pemulihannya berjalan tanpa rujukan. Antrean itu kini sudah terurai. Kabut asapnya belum.

Gangguan yang masih berjalan: kabut asap Kalimantan

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah menutup bandara-bandara Kalimantan sejak pertengahan Agustus, dan inilah alasan penerbangan CGK masih dibatalkan hari ini. Gangguan ini dimulai sebelum Anak Krakatau erupsi dan terus berlanjut setelah gunung itu tidak lagi relevan bagi Jakarta.

Hari paling jelas adalah Sabtu 12 September 2026. Bandara Internasional Supadio Pontianak membatalkan 30 penerbangan — 15 keberangkatan dan 15 kedatangan — setelah jarak pandang turun ke 300 sampai 500 meter dan bertahan demikian sejak pukul 05.00 hingga 16.00 WIB. “Keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan bagi operasional penerbangan,” kata General Manager Supadio, Maya Damayanti. Pihak bandara membagikan masker, air minum, dan makanan ringan sementara maskapai memproses refund di konter masing-masing. Kondisi itu tidak membaik keesokan harinya. Liputan6 melaporkan Supadio hanya melayani 11 penerbangan pada Sabtu dan 9 pada Minggu, serta 73 penerbangan tertunda atau dijadwal ulang sepanjang 12–14 September. Pada Senin pagi jarak pandang masih 300 meter hingga pukul 10.00 WIB, menurut Branch Communication & CSR Department Head Supadio, M. Joko Wahyudi.

Sepanjang akhir pekan itu, asap meluas ke satu bandara Kalimantan lain yang sebelumnya belum masuk daftar pembatalan CGK: Tjilik Riwut di Palangkaraya. Prokalteng mencatat jarak pandang di sana turun dari 800 meter pada pukul 07.30 WIB Sabtu 12 September menjadi 500 meter pada sore hari, lalu 450 meter pada pukul 15.30 — di bawah batas minimum. Pada Minggu, asap kembali menebal sejak pukul 15.00 dan jarak pandang menyentuh 300 meter pada pukul 15.30 WIB, bertahan sampai malam. General Manager bandara, Darmawan, menyebut maskapai yang membatalkan penerbangan: Super Air Jet, Garuda Indonesia, dan Batik Air.

Di sisi Jakarta, akhir pekan itu menghasilkan hari terburuk sepanjang gangguan asap Kalimantan sejauh ini. Soekarno-Hatta mencatat 22 penerbangan dibatalkan dan 2 delay pada Minggu 13 September 2026, dihitung sampai pukul 18.15 WIB, untuk tiga kota tujuan — Supadio Pontianak, Tjilik Riwut Palangkaraya, dan H Asan Sampit. Sehari berikutnya, Senin 14 September, catatan sampai pukul 16.00 WIB adalah 8 penerbangan delay, kali ini hanya pada rute Pontianak dan Palangkaraya. Kedua angka itu disampaikan Yudistiawan, Asisten Deputi Communication & Legal Kantor Cabang Utama Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Kami memahami kondisi ini berdampak pada perjalanan para penumpang,” katanya, sambil meminta calon penumpang memantau status penerbangan lewat kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara.

Perhatikan pola dua hari itu: pembatalan pada Minggu, delay pada Senin. Delay pada rute berasap belum tentu kabar yang lebih baik daripada pembatalan — sering kali artinya maskapai menunggu apakah jarak pandang di bandara tujuan kembali di atas batas minimum sebelum mengambil keputusan. Sebagian pesawat akhirnya berangkat, sebagian lagi dibatalkan beberapa jam kemudian.

Di sisi Jakarta, polanya sudah berlangsung berminggu-minggu. Kompas melaporkan 43 penerbangan CGK–Kalimantan dibatalkan pada 22 dan 23 Agustus 2026 — 18 pada Sabtu dan 25 pada Minggu — mencakup lima kota tujuan. Sebelumnya, pada 16, 18, dan 19 Agustus, TransNusa dan Super Air Jet membatalkan rute Jakarta–Singkawang dua arah saat jarak pandang berkisar 2.000 sampai 3.000 meter.

Lalu pada 2 September, tujuh penerbangan CGK tujuan Pontianak bermasalah dengan tiga cara berbeda: empat delay, dua dibatalkan, dan satu sudah berangkat dari Jakarta lalu kembali. Penjelasan juru bicara bandara singkat saja — empat belum berangkat, satu sudah berangkat lalu kembali, dan dua diputuskan tidak berangkat. Ketujuhnya tersebar di ketiga terminal.

Enam rute Kalimantan yang perlu diwaspadai

Soekarno-Hatta menyebut lima kota tujuan saat melaporkan pembatalan Agustus; Palangkaraya menjadi yang keenam pada akhir pekan 12–13 September. Jika tiket Anda berada di salah satunya, sediakan jeda waktu lebih longgar dari biasanya.

Tujuan Apa yang terjadi di sana
Pontianak (PNK) Bandara Internasional Supadio. Paling parah terdampak. Jarak pandang 300–500 m selama sebelas jam pada 12 September 2026 dan 30 penerbangan dibatalkan; hari itu hanya 11 penerbangan yang terlayani, lalu 9 pada Minggu. Masih 300 m sampai pukul 10.00 WIB pada Senin 14 September.
Palangkaraya (PKY) Bandara Tjilik Riwut. Masuk daftar pada 12–13 September 2026. Jarak pandang turun dari 800 m menjadi 450 m sepanjang Sabtu, lalu 300 m pada pukul 15.30 WIB Minggu. Super Air Jet, Garuda Indonesia, dan Batik Air sama-sama membatalkan penerbangan.
Singkawang (SKJ) Kalimantan Barat. Rute Jakarta–Singkawang yang dilayani TransNusa dan Super Air Jet berulang kali dibatalkan sepanjang pertengahan Agustus.
Banjarmasin (BDJ) Kalimantan Selatan. Termasuk lima rute yang dibatalkan dari CGK pada 22–23 Agustus 2026.
Balikpapan (BPN) Kalimantan Timur. Juga titik transit — kabut asap di Banjarmasin dan Pontianak membuat penerbangan lanjutan dari Balikpapan delay satu sampai empat jam.
Sampit (SMQ) Kalimantan Tengah, Bandara H Asan. Termasuk dalam pembatalan 22–23 Agustus, dan kembali disebut sebagai salah satu dari tiga tujuan di balik pembatalan 13 September.

Kenapa asap bisa mengandangkan pesawat

Kabut asap tidak merusak pesawat seperti abu vulkanik. Abu vulkanik adalah serpihan batuan dan kaca yang meleleh di dalam mesin jet yang sedang bekerja; asap tidak melakukan itu. Masalah kabut asap jauh lebih sederhana dan sepenuhnya soal beberapa ratus meter terakhir menjelang pendaratan.

Setiap prosedur pendekatan landasan memiliki batas jarak pandang minimum yang secara hukum tidak boleh dilanggar. Ketika asap menurunkan jarak pandang di Supadio menjadi 300 meter, pendaratan batal — bukan karena pesawatnya tidak sanggup, melainkan karena aturan yang menjaga pendaratan tetap selamat berkata demikian. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F Laisa, menyampaikannya persis seperti itu pada Agustus: keselamatan adalah prioritas utama, dan maskapai harus menyesuaikan operasi ketika jarak pandang tidak memenuhi persyaratan.

Yang membuat kabut asap lebih merepotkan daripada kabut biasa adalah daya tahannya. Kabut radiasi menghilang saat matahari naik. Asap dari lahan gambut yang terbakar terus diproduksi, mengendap rendah, dan bisa bertahan sepanjang jam kerja — persis yang terjadi di Pontianak pada 12 September, sebelas jam di bawah batas minimum. Karena itu pembatalan akibat asap cenderung menghabiskan rotasi satu hari penuh, bukan sekadar menggeser satu keberangkatan satu jam.

Hal ini juga menjelaskan kejadian return to base pada 2 September. Jarak pandang di bandara tujuan bisa memburuk setelah pesawat meninggalkan Jakarta, dan pada titik itu pilihannya tinggal menunggu di udara, dialihkan, atau kembali. Pada rute yang terdampak asap, berangkat tepat waktu tidak sama dengan tiba.

Sampai kapan ini berlangsung?

Belum ada yang berani menyebut tanggal, dan sebaiknya Anda ragukan siapa pun yang menyebutnya. Yang tercatat resmi adalah cuaca kebakarannya. BMKG menempatkan Fire Weather Index kawasan ini pada kategori tinggi hingga sangat tinggi untuk periode 11–17 September 2026 — yang mencakup sisa pekan ini. BMKG mencatat sekitar 2.526 titik panas di Kalimantan Tengah dan 2.102 titik di Kalimantan Barat pada musim ini, dua provinsi tempat Palangkaraya dan Pontianak berada.

BMKG menjalankan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Barat untuk merangsang hujan, dan menyatakan upaya itu membuahkan hasil. Di sisi lain, BMKG memperkirakan El Nino bertahan sampai awal 2027, sehingga hari tanpa hujan berpotensi makin panjang. Bagi penumpang, bacaannya sederhana: ini musim, bukan insiden tunggal. Satu-dua hari bisa cerah, tetapi risiko di rute Kalimantan tidak hilang hanya karena satu pagi lancar.

Supadio kini menerapkan Airport Collaborative Decision Making (A-CDM) bersama maskapai, AirNav Indonesia, dan BMKG agar data jarak pandang dan keputusan jadwal sampai ke penumpang lebih cepat. Itu memperpendek jeda antara keputusan diambil dan munculnya di aplikasi maskapai — bukan membuat penerbangan tetap berangkat.

Dan gunung-gunungnya belum selesai

Dua gunung berapi yang berbeda mengganggu jadwal CGK pada September 2026. Gunung Sinabung di Sumatera Utara lebih dulu: pada 1 September, abunya menutup Bandara Kualanamu di dekat Medan, dan Kompas melaporkan 15 penerbangan CGK–Kualanamu dibatalkan serta 14 delay, dengan sekitar 5.350 penumpang terdampak dalam satu hari. Peristiwa itu sama sekali tidak berkaitan dengan Anak Krakatau, yang erupsi empat hari kemudian.

Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga), tingkat kedua tertinggi dari empat level di Indonesia, dengan zona larangan 3 km di sekitar kawah. PVMBG masih mencatat erupsi pada periode pengamatan 10–11 September dan menilai potensi letusan berikutnya masih tinggi. Apakah itu kembali menutup CGK sebenarnya bukan pertanyaan tentang gunungnya — melainkan tentang arah angin, dan itulah sebabnya tidak ada yang berani meramalkannya untuk Anda.

Apa yang menjadi hak Anda, dan apa yang tidak

Baik kabut asap maupun abu vulkanik diperlakukan sebagai keadaan luar biasa di luar kendali maskapai. Pembedaan itu menentukan segalanya soal apa yang bisa Anda tuntut.

  • Tidak ada kompensasi keterlambatan. Ganti rugi yang berlaku untuk keterlambatan akibat kesalahan operasional maskapai tidak berlaku di sini. Menuntutnya hanya akan menghabiskan waktu Anda di konter.
  • Refund atau reschedule, iya. Untuk pembatalan akibat kabut asap pada Agustus, Direktur Jenderal Perhubungan Udara menyatakan penumpang terdampak memperoleh pengembalian dana penuh dan perubahan tanggal gratis hingga tujuh hari. Saat penutupan akibat Anak Krakatau, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mewajibkan setiap maskapai menawarkan refund 100 persen atau penjadwalan ulang ke penerbangan lain.
  • Layanan dasar di bandara. Supadio menyediakan masker, air minum, makanan ringan, dan kursi tambahan pada 12 September. Di sisi Jakarta, Soekarno-Hatta mengaktifkan prosedur Service Recovery Activation (SRA) pada 13 dan 14 September, yang wujudnya berupa makanan dan minuman di area ruang tunggu selama maskapai menangani penumpang terdampak. Ini pemulihan layanan, bukan kompensasi, dan bersifat kebijakan — tetapi lazim diberikan. InJourney Airports menyediakan Contact Center 172 untuk pertanyaan sisi bandara; urusan tiket tetap ke maskapai.
  • Gunakan istilah yang tepat. Sebut “refund” atau “reschedule”, bukan “kompensasi”, dan urus lewat kanal resmi maskapai — aplikasi, call center, atau kantor penjualan — daripada mengantre di bandara, yang biasanya lebih lambat.

Yang perlu dilakukan jika terbang lewat CGK bulan ini

  • Periksa kota tujuan, bukan Jakarta. Satu perubahan kebiasaan ini akan menolong sebagian besar penumpang yang terjebak sejak pertengahan Agustus. Langit CGK yang cerah nyaris tidak memberi tahu apa pun tentang apakah penerbangan Anda jadi berangkat.
  • Konfirmasi ke maskapai beberapa jam sebelum berangkat. Pihak Soekarno-Hatta berulang kali meminta hal ini. Pembatalan pada rute berasap diputuskan pagi hari itu juga, bukan jauh-jauh hari.
  • Untuk rute Kalimantan, pilih keberangkatan lebih siang. Jarak pandang umumnya paling buruk menjelang subuh. Ini kecenderungan, bukan aturan — Pontianak tetap di bawah batas minimum sampai pukul 16.00 WIB pada 12 September — tetapi keberangkatan siang menjelang sore sejauh ini berpeluang lebih baik daripada pagi buta.
  • Jangan ambil koneksi lanjutan yang mepet. Return to base atau pembatalan mendadak akan menghancurkan jeda transit yang pendek, dan gangguan ini tidak tercakup perlindungan missed connection biasa karena tergolong keadaan kahar.
  • Pertimbangkan jalur darat. Untuk perjalanan domestik di Pulau Jawa, kereta atau bus kebal terhadap semua ini. Lihat panduan transportasi bandara ke kota kami untuk koneksi dari CGK.
  • Baca ketentuan asuransi Anda. Banyak polis dasar mengecualikan gangguan akibat gunung berapi secara eksplisit, dan sebagian mengecualikan kabut asap sebagai peristiwa musiman yang dapat diperkirakan. Baca daftar pengecualiannya, jangan berasumsi.

Tanya jawab

Apakah Bandara Soekarno-Hatta (CGK) sudah beroperasi?

Sudah. Soekarno-Hatta kembali dibuka tepat setelah tengah malam pada Selasa 8 September 2026 setelah dua hari ditutup akibat erupsi Anak Krakatau, dan sejak itu bandaranya sendiri beroperasi normal. Penerbangan individual memang masih ada yang dibatalkan, tetapi penyebabnya kini hampir selalu kondisi di bandara tujuan, bukan sesuatu yang terjadi di CGK.

Kenapa penerbangan masih delay padahal bandara sudah dibuka?

Karena pesawat dan krunya berada di tempat yang salah. Yudistiawan, Asisten Deputi Communication & Legal Kantor Cabang Utama Bandara Internasional Soekarno-Hatta, menyampaikan kepada Kompas pada 8 September 2026 bahwa keterlambatan berada di ranah persiapan maskapai, bukan abu vulkanik: memastikan pesawat aman digunakan, mengatur rotasi pesawat, dan menyiapkan kru. Sampai tengah hari 8 September, bandara sudah melayani 324 penerbangan — 208 keberangkatan dan 116 kedatangan. Ia juga menyebut peristiwa ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah bandara, sehingga pemulihannya tidak punya rujukan.

Rute CGK mana yang paling rawan dibatalkan sekarang?

Penerbangan ke Kalimantan. Kabut asap karhutla berulang kali menurunkan jarak pandang di bandara tujuan hingga di bawah batas minimum. Soekarno-Hatta kini mencatat pembatalan pada enam rute Kalimantan: Banjarmasin (BDJ), Balikpapan (BPN), Pontianak (PNK), Palangkaraya (PKY), Sampit (SMQ), dan Singkawang (SKJ). Pontianak yang paling parah; Palangkaraya menyusul pada akhir pekan 12–13 September 2026. Pada Minggu 13 September, bandara mencatat 22 penerbangan CGK–Kalimantan dibatalkan dan 2 delay, lalu pada Senin 14 September 8 penerbangan lagi mengalami delay.

Seberapa parah kabut asap di Pontianak?

Pada Sabtu 12 September 2026, Bandara Internasional Supadio Pontianak membatalkan 30 penerbangan — 15 keberangkatan dan 15 kedatangan — setelah jarak pandang turun ke 300 sampai 500 meter sejak pukul 05.00 hingga 16.00 WIB. General Manager Supadio, Maya Damayanti, menyatakan keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan operasional. Kondisi itu tidak membaik pada akhir pekan: Liputan6 melaporkan Supadio hanya melayani 11 penerbangan pada Sabtu dan 9 penerbangan pada Minggu, serta 73 penerbangan tertunda atau dijadwal ulang sepanjang 12–14 September. Pada Senin 14 September jarak pandang masih 300 meter hingga pukul 10.00 WIB, menurut Branch Communication & CSR Department Head Supadio, M. Joko Wahyudi.

Apa itu Service Recovery Activation, dan penumpang dapat apa?

SRA adalah prosedur yang diaktifkan Soekarno-Hatta ketika gangguan mulai menumpuk penumpang di terminal. Bandara mengonfirmasi prosedur ini diaktifkan pada 13 dan 14 September 2026 untuk penerbangan Kalimantan yang terdampak asap. Wujudnya berupa penyediaan makanan dan minuman di area ruang tunggu selama maskapai menangani penumpang terdampak, ditambah koordinasi informasi antara pengelola bandara, maskapai, dan AirNav. Ini pemulihan layanan, bukan kompensasi — refund atau reschedule tetap urusan maskapai. InJourney Airports menyediakan Contact Center 172 untuk pertanyaan sisi bandara.

Sampai kapan kabut asap Kalimantan ini berlangsung?

Belum ada yang menyebut tanggal, dan sebaiknya Anda ragukan siapa pun yang berani menyebutnya. BMKG menempatkan Fire Weather Index kawasan ini pada kategori tinggi hingga sangat tinggi untuk periode 11–17 September 2026, dan mencatat sekitar 2.526 titik panas di Kalimantan Tengah serta 2.102 titik di Kalimantan Barat pada musim ini. BMKG juga menjalankan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Barat untuk merangsang hujan. Di sisi lain, BMKG memperkirakan El Nino bertahan sampai awal 2027, yang membuat hari tanpa hujan makin panjang. Jawaban jujurnya: ini musim, bukan insiden tunggal.

Kenapa kabut asap membatalkan penerbangan padahal kabut biasa tidak?

Yang menentukan bukan asap di sepanjang rute, melainkan seberapa jauh pilot bisa melihat saat pendaratan akhir. Setiap bandara punya batas jarak pandang minimum untuk mendarat, dan di bawah angka itu pendekatan tidak boleh dilakukan, secanggih apa pun pesawatnya. Asap dari kebakaran lahan gambut bersifat pekat, bertahan lama, dan mengendap rendah — berbeda dengan kabut pagi yang biasanya hilang menjelang siang. Di Supadio pada 12 September, jarak pandang berada di bawah batas minimum selama sebelas jam berturut-turut.

Bisakah pesawat berangkat tepat waktu tapi tetap tidak sampai?

Bisa, dan itu sudah terjadi. Pada 2 September 2026, tujuh penerbangan CGK tujuan Pontianak terganggu kabut asap: empat delay, dua dibatalkan, dan satu sudah berangkat lalu kembali ke Jakarta. Return to base adalah keputusan standar ketika kondisi di bandara tujuan memburuk setelah pesawat lepas landas. Pada rute yang terdampak asap, keberangkatan tepat waktu bukan jaminan kedatangan.

Apakah ada gunung lain selain Anak Krakatau yang berpengaruh?

Ada. Pada 1 September 2026, sepekan sebelum penutupan akibat Anak Krakatau, abu Gunung Sinabung di Sumatera Utara menutup Bandara Kualanamu di dekat Medan. Kompas melaporkan 15 penerbangan CGK–Kualanamu dibatalkan dan 14 delay pada hari itu, dengan sekitar 5.350 penumpang terdampak. Gangguan ini sepenuhnya terpisah dari peristiwa Anak Krakatau maupun kabut asap Kalimantan.

Apakah penumpang berhak atas kompensasi?

Bukan kompensasi keterlambatan. Abu vulkanik dan kabut asap tergolong keadaan luar biasa di luar kendali maskapai, sehingga ketentuan ganti rugi keterlambatan tidak berlaku. Yang berlaku adalah refund. Untuk pembatalan akibat kabut asap pada Agustus 2026, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa menyatakan penumpang terdampak mendapat pengembalian dana penuh dan perubahan jadwal gratis hingga tujuh hari. Saat penutupan akibat Anak Krakatau, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mewajibkan maskapai menawarkan refund 100 persen atau reschedule gratis. Sebut permintaan Anda dengan istilah yang tepat.

Apakah Anak Krakatau masih berisiko bagi penerbangan CGK?

Masih. PVMBG mempertahankan status Anak Krakatau pada Level III (Siaga), tingkat kedua tertinggi dari empat level di Indonesia, dengan zona larangan 3 km. Erupsi masih terekam pada periode pengamatan 10–11 September 2026 dan badan tersebut menilai potensi letusan berikutnya masih tinggi. Apakah hal itu kembali berdampak ke CGK lebih ditentukan arah angin daripada aktivitas gunungnya.

Apa yang sebaiknya dilakukan sebelum terbang dari CGK?

Periksa cuaca di bandara tujuan, bukan hanya di Jakarta, dan cek status penerbangan lewat aplikasi atau situs resmi maskapai beberapa jam sebelum keberangkatan, jangan hanya mengandalkan kode booking. Pihak Soekarno-Hatta berulang kali meminta penumpang mengonfirmasi ke maskapai sebelum berangkat ke bandara. Jika tujuan Anda Kalimantan, pertimbangkan ulang penerbangan pagi buta — kabut asap paling pekat menjelang subuh.

Baca juga