Kenapa Maskapai Sering Delay? Penyebab Pesawat Delay di CGK

Empat pesawat Boeing 737 Garuda Indonesia di apron Bandara Soekarno-Hatta, satu terhubung garbarata di depan dan tiga sedang dilayani di belakangnya.
Pesawat disiapkan di antara penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Desember 2017. Setiap pesawat jarak pendek terbang beberapa kali sehari, sehingga keterlambatan di awal terbawa ke penerbangan berikutnya. Foto: Sabung.hamster, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Singkatnya: sebagian besar delay di Indonesia berasal dari rotasi pesawat yang molor, cuaca, dan kepadatan bandara, dan penerbangan paling pagi biasanya pilihan paling aman.

Menurut data resmi terbaru Kemenhub, sekitar satu dari empat penerbangan domestik (26,01%) tidak tepat waktu pada 2023. Kemenhub menyebut cuaca sebagai penyebab paling dominan. Semua itu di luar kendali Anda, tetapi Anda bisa memilih jam keberangkatan pagi, memberi jeda cukup untuk transit, dan mengecek papan keberangkatan live sebelum berangkat ke bandara.

Kenapa maskapai sering delay? Jawabannya jarang tunggal. Sebagian besar keterlambatan di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) berasal dari beberapa penyebab yang saling memengaruhi: satu pesawat terbang beberapa kali sehari, hujan badai tropis, landasan yang bekerja mendekati kapasitasnya, serta urusan rutin seperti pemeriksaan teknis, kru, dan boarding. Panduan ini menjelaskan pesawat delay karena apa saja, mana yang mewajibkan maskapai memberi kompensasi, dan apa yang bisa Anda lakukan agar tidak lama tertahan di ruang tunggu.

Pesawat delay artinya apa?

Pesawat delay artinya penerbangan berangkat lebih lambat daripada jadwal di tiket Anda. Aturan keterlambatan di Indonesia, Peraturan Menteri Perhubungan PM 89 Tahun 2015, menghitungnya sampai pesawat mundur dari gate (block-off), bukan sampai lepas landas. Kategorinya dimulai dari keterlambatan 30 menit; sejak titik itulah maskapai mulai punya kewajiban kepada Anda.

Statistik memakai definisinya sendiri. Angka on time performance (OTP) tahunan Kemenhub disusun dari laporan yang diserahkan maskapai dan tidak menyebut batas menitnya. Pelacak independen, termasuk pelacak ketepatan waktu maskapai di situs ini, menghitung penerbangan tepat waktu bila selisihnya paling lama 15 menit dari jadwal. Jadi penerbangan yang terlambat 20 menit bisa tercatat delay dalam statistik, tanpa memberi Anda hak apa pun.

Pesawat delay karena apa? Ringkasan penyebab dan tanggung jawabnya

PM 89/2015 membagi penyebab keterlambatan menjadi empat kelompok: faktor manajemen maskapai, faktor teknis operasional (bandara dan lalu lintas udara), faktor cuaca, dan faktor lain (misalnya kerusuhan di bandara). Hanya kelompok pertama yang membuat maskapai bertanggung jawab.

Penyebab Contohnya Kompensasi delay?
Keterlambatan rotasi Pesawat Anda terlambat datang dari penerbangan sebelumnya. Tergantung penyebab keterlambatan penerbangan sebelumnya. PM 89 tidak punya kategori tersendiri.
Cuaca Hujan petir, hujan lebat, jarak pandang rendah, kabut asap, angin kencang — di bandara asal maupun tujuan. Tidak ada kompensasi keterlambatan, bila maskapai menunjukkan surat dari BMKG.
Abu vulkanik Penutupan bandara seperti saat erupsi Anak Krakatau, September 2026. Tidak ada kompensasi keterlambatan. Refund atau pengalihan bila penerbangan batal.
Kepadatan landasan dan ruang udara Antrean lepas landas dan mendarat, slot time keberangkatan, holding. Tidak ada kompensasi keterlambatan: faktor teknis operasional menurut PM 89.
Masalah bandara Landasan ditutup, rusak, atau tergenang; pengisian bahan bakar terlambat. Tidak ada kompensasi keterlambatan: faktor teknis operasional menurut PM 89.
Manajemen maskapai Kru, katering, atau ground handling terlambat; menunggu penumpang; pesawat belum siap terbang. Ada. Maskapai bertanggung jawab menurut PM 89.

1. Efek domino: satu pesawat, banyak penerbangan

Pesawat jarak pendek di Indonesia tidak terbang satu rute lalu menunggu. Ia menerbangi serangkaian rute sepanjang hari — Jakarta ke Denpasar, kembali ke Jakarta, lalu ke Medan, dan seterusnya — dengan waktu singgah di darat di antaranya. Jika penerbangan pertama berangkat satu jam terlambat, semua penerbangan berikutnya ikut mundur satu jam, kecuali maskapai bisa mengejar waktu di darat atau mengganti pesawat dan kru cadangan.

Maskapai sendiri mengakuinya. Pada Juni 2023, Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, menyebut tujuh penyebab keterlambatan, salah satunya keterlambatan pada penerbangan pesawat sebelumnya yang kemudian terbawa ke penerbangan berikutnya. Saat penerbangan Super Air Jet IU-742 Jakarta–Denpasar terlambat sekitar lima jam pada 13 Februari 2026, maskapai menjelaskan bahwa pesawatnya harus menjalani pemeriksaan teknis tidak terjadwal yang “tidak dapat dilakukan secara instan”, sehingga berdampak pada rotasi pesawat berikutnya.

Indonesia tidak menerbitkan berapa porsi keterlambatan yang berasal dari efek domino ini. Di Eropa, yang mengukurnya, Eurocontrol mencatat keterlambatan reaksioner sebagai penyumbang terbesar pada 2024, yaitu 46% dari seluruh menit keterlambatan. Tidak ada alasan untuk mengira jaringan domestik Indonesia yang padat jauh berbeda.

Itulah sebabnya penerbangan gelombang pertama di pagi hari cenderung lebih tepat waktu. Pesawatnya biasanya sudah menginap di bandara, krunya baru mulai bertugas, dan tidak ada penerbangan sebelumnya yang keterlambatannya bisa terbawa. Makin sore Anda terbang, makin banyak peluang ada yang meleset di rantai sebelumnya.

2. Cuaca: hujan petir, kabut asap, dan abu vulkanik

Cuaca adalah penyebab yang pertama disebut pemerintah. Pada 22 Mei 2025, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan kepada Komisi V DPR bahwa keterlambatan penerbangan domestik disebabkan faktor teknis operasional, manajemen maskapai, dan cuaca, “namun yang paling dominan adalah cuaca”.

Hujan petir. Di sekitar Jakarta, hujan pada musim hujan biasanya turun dari sore hingga malam. BMKG menjelaskan bahwa pemanasan permukaan yang kuat pada siang hari dan kelembapan udara di lapisan bawah mendukung pertumbuhan awan konvektif, sehingga pagi yang cerah kerap berganti hujan badai menjelang sore. Sel badai di sekitar bandara bisa menghentikan lepas landas dan pendaratan untuk sementara dan membuat pesawat yang akan mendarat harus berputar menunggu (holding). Musim hujan kira-kira berlangsung dari akhir tahun hingga sekitar April, dengan puncak Januari–Februari. Untuk 2026–27, prakiraan BMKG berbeda soal awalnya: seorang pejabat BMKG pada September 2026 menyebut musim hujan di Jakarta dimulai Oktober, sedangkan siaran pers BMKG dua hari kemudian menyatakan El Niño sangat kuat akan memundurkan awal musim hujan ke Desember di sebagian besar Jawa.

Pagi hari pun tidak kebal. Antara pukul 05.00 dan 10.00 WIB pada 12 Januari 2026, hujan lebat menurunkan jarak pandang di seluruh landasan Soekarno-Hatta hingga di bawah 1.000 meter. Menurut AirNav Indonesia, sekitar 15 pesawat tertahan di udara selama 40 menit hingga satu jam dan 16 pesawat dialihkan ke bandara lain, antara lain Halim, Semarang, dan Yogyakarta. Lion Air Group menyebut 20 penerbangannya dialihkan pagi itu; kedua hitungan mencakup lingkup berbeda dan tidak sama. Maskapai menyebut pengalihan itu kemudian menimbulkan keterlambatan di jam berikutnya karena rotasi pesawat — lagi-lagi efek domino.

Kabut asap. Pada musim kemarau, asap kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan dan Sumatra dapat menurunkan jarak pandang di bandara tujuan di bawah batas minimum pendaratan, meski Jakarta cerah. Kabut asap membatalkan puluhan penerbangan dari CGK pada Agustus dan September 2026; baca penerbangan delay dan batal di Bandara CGK dan kabut asap membuat pesawat CGK–Jambi kembali ke Jakarta.

Abu vulkanik. Abu dapat merusak mesin pesawat, sehingga bandara di jalur sebarannya ditutup. Abu Anak Krakatau menutup Soekarno-Hatta selama dua hari pada September 2026, dan pesawat serta kru yang tersebar tidak pada tempatnya membuat penerbangan tetap terlambat setelah bandara dibuka kembali; baca penutupan Bandara CGK akibat erupsi Anak Krakatau.

3. Kapasitas landasan dan kepadatan di CGK

Soekarno-Hatta adalah bandara tersibuk di Indonesia. InJourney Airports, pengelolanya, mencatat rata-rata 991 penerbangan per hari pada 2024, dengan puncak 1.113 penerbangan pada 24 Desember. Bandara ini punya tiga landasan: dua landasan paralel lama dan landasan ketiga sepanjang 3.000 meter yang beroperasi penuh sejak Desember 2019 dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada Januari 2020.

Berapa banyak pesawat yang bisa dilayani tergantung siapa yang menghitung dan kapan. Saat landasan ketiga dibuka, pemerintah menyebut kapasitas naik menjadi 100 pergerakan per jam dari 82. Pada April 2024, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut angka yang berjalan baru 87 per jam, dan bisa mencapai 110 bila AirNav dapat mengoperasikan landasan 2 dan 3 secara bersamaan. Kami belum menemukan angka resmi yang lebih baru.

Penerbangan tidak tersebar merata sepanjang hari. Maskapai menumpuk jadwal pada jam-jam yang diminati penumpang, dan slot lepas landas serta pendaratan di CGK diatur oleh Indonesia Slot Coordinator (IDSC), yang diluncurkan Ditjen Perhubungan Udara pada 2011 agar bandara tidak padat hanya pada jam-jam tertentu. Ketika permintaan pada jam tertentu mendekati kemampuan landasan, pesawat yang akan berangkat antre di taxiway dan yang akan mendarat ditahan di udara, dan setiap badai atau penutupan landasan membuat antrean makin panjang. PM 89/2015 menyebut antrean lepas landas, mendarat, dan alokasi slot time keberangkatan sebagai faktor teknis operasional — bukan kesalahan maskapai.

Musim puncak — Lebaran, libur sekolah, serta Natal dan Tahun Baru — menambah penerbangan ekstra ke jadwal yang sudah padat. Hari tersibuk 2024 dengan 1.113 penerbangan itu jatuh pada malam Natal.

4. Pemeriksaan teknis, kru, ground handling, dan boarding

Sisanya terjadi di dalam operasi maskapai sendiri. Inilah keterlambatan yang menurut PM 89/2015 menjadi tanggung jawab maskapai: pilot atau awak kabin terlambat, katering terlambat, ground handling terlambat, menunggu penumpang yang terlambat check-in atau transit, dan pesawat yang “belum siap”.

  • Teknis dan perawatan. Jika ditemukan kerusakan saat pemeriksaan pra-terbang, pesawat tidak berangkat sampai diperbaiki atau dinyatakan laik, seperti kasus Super Air Jet di atas. Aturan tidak menyebut kerusakan teknis secara khusus; pesawat yang belum siap terbang dimasukkan ke faktor manajemen maskapai.
  • Batas jam kerja kru. Jam terbang pilot dibatasi aturan — menurut Kemenhub, maksimal 30 jam dalam 7 hari, 110 jam sebulan, dan 1.050 jam setahun — dan jam dinas harian pun dibatasi. Saat keterlambatan menumpuk, kru bisa kehabisan jam dinas yang diizinkan, dan penerbangan menunggu kru pengganti.
  • Ground handling dan boarding. Pengisian bahan bakar, katering, pemuatan bagasi, dan pembersihan kabin harus muat dalam waktu singgah yang singkat. Lion Air Group menyebut penumpang yang terlambat dan bagasi kabin yang terlalu banyak sebagai hal yang menahan keberangkatan; menurunkan bagasi penumpang yang tidak jadi naik pesawat juga memakan waktu.
  • Transit antarterminal. Dalam rapat Mei 2025 yang sama, Presiden Direktur Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro Adi menyebut penumpang yang transit antarmaskapai di CGK — misalnya mendarat di Terminal 1A lalu berangkat dari Terminal 3 — juga membuat penerbangan tertahan.

Delay mana yang berhak mendapat kompensasi

Singkatnya: hanya keterlambatan yang disebabkan maskapai. Menurut PM 89/2015, maskapai wajib memberi kompensasi mulai 30 menit — minuman dan makanan secara bertahap, lalu Rp 300.000 bila Anda menunggu lebih dari empat jam — bila penyebabnya kru, katering, ground handling, menunggu penumpang, atau pesawat belum siap terbang. Cuaca, abu vulkanik, antrean landasan, dan masalah bandara dikecualikan, asalkan maskapai dapat menunjukkan surat resmi (dari BMKG untuk cuaca). Keterlambatan rotasi mengikuti penyebab keterlambatan penerbangan sebelumnya. Bila penerbangan Anda dibatalkan, Anda berhak atas refund atau pengalihan penerbangan apa pun penyebabnya. Mintalah petugas maskapai di gate menyebutkan alasan keterlambatan; Anda akan membutuhkannya.

Maskapai paling sering delay

Satu-satunya jawaban resmi berasal dari buku statistik Kemenhub. Dalam tabel per maskapai terbaru yang dipublikasikan utuh, untuk penerbangan berjadwal dalam negeri tahun 2023, tingkat ketepatan waktu terendah dicatat TransNusa (50,48%) dan Susi Air (56,77%) — keduanya operator kecil, sehingga persentasenya mudah bergeser karena beberapa hari yang buruk. Di antara maskapai jet besar, yang terendah adalah Lion Air (65,43%) dan Indonesia AirAsia (65,71%). Rata-rata nasional 73,99%. Angka ini dilaporkan maskapai sendiri, bersifat nasional dan tahunan, dan kini sudah hampir tiga tahun: Kemenhub belum membuka tabel per maskapai untuk 2024 dan 2025.

Untuk kondisi maskapai di Soekarno-Hatta saat ini, gunakan pelacak ketepatan waktu maskapai di situs ini, yang mengukur setiap penerbangan CGK dari catatan penerbangan milik pengelola bandara, dengan riwayat sejak 11 Januari 2026; halaman metodologi menjelaskan cara penghitungannya.

Cara mengurangi risiko kena delay

  • Pilih penerbangan paling pagi. Penerbangan ini paling kecil terkena efek domino dan, pada musim hujan, hujan badai sore.
  • Hindari transit yang mepet, terutama dengan tiket terpisah atau antarterminal di CGK. Maskapai yang membuat penerbangan pertama Anda terlambat tidak bertanggung jawab atas penerbangan lanjutan yang Anda pesan di maskapai lain. Cek terminal tiap penerbangan.
  • Cek maskapai Anda di pelacak sebelum memesan: setiap maskapai utama punya halaman sendiri — Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Citilink, Super Air Jet, Indonesia AirAsia, Pelita Air, dan TransNusa.
  • Cek cuaca di kedua ujung rute. Pada musim kemarau, kabut asap di bandara tujuan lebih berisiko daripada apa pun di Jakarta.
  • Cek pada hari keberangkatan. Lihat penerbangan Anda di papan keberangkatan live dan aplikasi maskapai sebelum berangkat, dan sediakan waktu ekstra menuju bandara saat hujan lebat.
  • Simpan buktinya. Jika terlambat, catat alasan yang disampaikan dan simpan boarding pass Anda. Keduanya diperlukan untuk klaim.

Yang belum diketahui

Kemenhub tidak menerbitkan rincian keterlambatan menurut penyebab, bandara, atau jam, sehingga tidak ada angka resmi berapa porsi delay di CGK yang disebabkan cuaca dibandingkan efek domino atau kepadatan landasan. OTP per maskapai untuk 2024 dan 2025 belum dibuka untuk umum, dan kami belum menemukan angka resmi kapasitas landasan CGK yang lebih baru dari April 2024.

Tanya jawab

Kenapa pesawat sering delay?

Umumnya karena empat hal yang saling menumpuk: satu pesawat terbang beberapa kali sehari sehingga keterlambatan di penerbangan awal merembet ke penerbangan berikutnya; cuaca tropis, terutama hujan petir sore dan malam pada musim hujan, ditambah kabut asap dan abu vulkanik; kepadatan di bandara sibuk seperti Soekarno-Hatta, tempat pesawat harus antre lepas landas dan mendarat; serta masalah di sisi maskapai seperti pemeriksaan teknis, kru, ground handling, dan boarding yang molor. Dirjen Perhubungan Udara menyampaikan kepada DPR pada Mei 2025 bahwa dari semua penyebab itu, cuaca yang paling dominan.

Pesawat delay karena apa saja?

PM 89 Tahun 2015 membagi penyebab keterlambatan menjadi empat kelompok: faktor manajemen maskapai (kru, katering, atau ground handling terlambat, menunggu penumpang, pesawat belum siap), faktor teknis operasional (bandara tidak dapat digunakan, landasan rusak atau tergenang, antrean lepas landas dan mendarat, slot time, keterlambatan pengisian bahan bakar), faktor cuaca (hujan lebat, petir, badai, kabut, asap, jarak pandang di bawah minimum, angin kencang), dan faktor lain seperti kerusuhan di bandara. Dalam praktik, penyebab yang paling sering terasa adalah keterlambatan rotasi pesawat sebelumnya.

Apa artinya pesawat delay?

Pesawat delay artinya penerbangan berangkat lebih lambat daripada jadwal di tiket Anda. Menurut PM 89/2015, keterlambatan dihitung sampai pesawat mundur dari gate (block-off), bukan saat lepas landas, dan kategorinya dimulai dari 30 menit. Statistik ketepatan waktu punya batas sendiri: pelacak independen biasanya menghitung penerbangan tepat waktu bila selisihnya paling lama 15 menit dari jadwal.

Jam berapa penerbangan paling jarang delay?

Pada umumnya penerbangan gelombang pertama di pagi hari. Pesawatnya biasanya sudah menginap di bandara, krunya baru memulai jam dinas, dan tidak ada penerbangan sebelumnya yang keterlambatannya bisa terbawa. Keterlambatan cenderung menumpuk sepanjang hari, dan di Jakarta sore hingga malam juga merupakan waktu hujan petir paling mungkin terjadi pada musim hujan. Ini kecenderungan, bukan jaminan: hujan lebat pada pagi 12 Januari 2026 membuat AirNav Indonesia mengalihkan 16 penerbangan dari CGK. Kemenhub tidak menerbitkan data ketepatan waktu per jam.

Maskapai apa yang paling sering delay?

Menurut data per maskapai terbaru yang dipublikasikan utuh oleh Kemenhub, yaitu penerbangan berjadwal dalam negeri tahun 2023, tingkat ketepatan waktu terendah dicatat TransNusa (50,48%) dan Susi Air (56,77%), keduanya operator kecil. Di antara maskapai jet besar, yang terendah Lion Air (65,43%) dan Indonesia AirAsia (65,71%). Rata-rata nasional 73,99%. Kemenhub belum membuka data per maskapai untuk 2024 dan 2025, jadi untuk kondisi terkini di CGK, lihat halaman tiap maskapai di pelacak situs ini.

Apakah dapat kompensasi kalau pesawat delay karena cuaca?

Tidak. Menurut PM 89/2015, maskapai wajib memberi kompensasi hanya untuk keterlambatan akibat faktor manajemen maskapai: kru, katering, atau ground handling terlambat, menunggu penumpang, atau pesawat belum siap. Cuaca serta masalah bandara dan lalu lintas udara, termasuk antrean di landasan, dikecualikan, asalkan maskapai dapat menunjukkan surat resmi (dari BMKG untuk cuaca). Jika penerbangan dibatalkan, Anda tetap berhak atas refund atau pengalihan penerbangan apa pun penyebabnya.

Kenapa pesawat saya delay padahal cuaca di Jakarta cerah?

Biasanya karena pesawat terlambat datang dari kota lain, atau cuaca buruk di bandara tujuan. Sepanjang 2026, kabut asap kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra berkali-kali menahan penerbangan dari Jakarta meski langit di CGK cerah. Tanyakan alasan keterlambatan kepada petugas maskapai: “keterlambatan pesawat dari rotasi sebelumnya” dan “cuaca di bandara tujuan” adalah jawaban yang umum.

Apakah antrean landasan di Soekarno-Hatta benar-benar menyebabkan delay?

Ya. Soekarno-Hatta adalah bandara tersibuk di Indonesia, dengan rata-rata 991 penerbangan per hari pada 2024 menurut InJourney Airports. Pada April 2024 Menteri Perhubungan menyebut tiga landasannya melayani 87 pergerakan pesawat per jam, dan bisa mencapai 110 bila landasan 2 dan 3 dapat dioperasikan bersamaan. Pada jam sibuk, pesawat yang akan berangkat antre di taxiway dan pesawat yang akan mendarat bisa ditahan di udara. PM 89/2015 menggolongkan antrean ini sebagai faktor teknis operasional, bukan kesalahan maskapai.

Lihat juga