Integrated Building Soetta Satukan 7 Moda di Antara Terminal 1 dan 2, Target Beroperasi Februari 2027

Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta dilihat dari barat di sepanjang jalur rel, bangunan kaca beratap puncak merah, dengan jalur layang Skytrain bertiang beton di latar depan dan menara kontrol di belakangnya.
Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang sudah ada, di antara Terminal 1 dan 2, difoto pada Mei 2019. Integrated Building sedang dibangun di kawasan yang sama di antara kedua terminal; foto ini tidak memperlihatkan gedung baru tersebut. Foto: Gunawan Kartapranata, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Status: masih dibangun. Target beroperasi Februari 2027. Belum ada yang berubah bagi perjalanan Anda.

Integrated Building di antara Terminal 1 dan 2 belum dibuka. Selama belum dibuka, berpindah terminal dan menuju kereta bandara tetap seperti sekarang, dengan Skytrain Kalayang yang gratis. Panduan transportasi bandara ke Jakarta dan halaman transportasi darat kami masih berlaku sepenuhnya.

Kalau Anda terbang lewat Soekarno-Hatta tahun ini, atau Januari nanti, tidak ada satu pun dari berita ini yang mengubah perjalanan Anda. Sebuah BUMN konstruksi sedang membangun simpul transportasi besar di antara Terminal 1 dan 2, yang dirancang menyatukan Skytrain, kereta bandara, taksi, mobil pribadi, bus, shuttle, dan travel antarkota di bawah satu atap. Wujudnya masih proyek, belum gedung, dan target operasinya datang dari perusahaan yang membangunnya. Yang layak diketahui adalah alasan gedung ini dibangun — karena masalah yang hendak diatasinya pernah dialami hampir setiap penumpang CGK.

Apa yang diumumkan

Pada Sabtu 26 September 2026, PT Hutama Karya (Persero) menyampaikan bahwa pihaknya tengah membangun gedung yang disebut Integrated Building di Bandara Soekarno-Hatta. Keterangan itu disampaikan Hamdani, Pj. EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, dan dimuat pada hari yang sama oleh detikFinance, IDX Channel, Warta Ekonomi, VOI, iNews, dan media lain.

Gedung ini berdiri di antara Terminal 1 dan Terminal 2 di atas lahan 18.487 m², dengan luas bangunan sekitar 60.000 m² yang terbagi menjadi Gedung Sayap Selatan dua lantai dan Gedung Sayap Utara tiga lantai termasuk mezanin. Hutama Karya menyebutnya simpul perpindahan yang menghubungkan tujuh moda: Skytrain, kereta bandara, kendaraan pribadi, taksi, bus, shuttle bus, dan travel antarkota. Fasilitasnya mencakup area parkir, zona antar-jemput, ruang tunggu penumpang, dan area komersial.

“Integrated Building ditargetkan mulai beroperasi pada Februari 2027,” demikian keterangan perusahaan. Sisanya soal teknis konstruksi: baja didatangkan dari Surabaya, beton dari sekitar bandara, Building Information Modelling (BIM) 5D untuk menghitung material dan mendeteksi benturan antarkomponen, serta fasad panel GRC berwarna oranye-terakota berlubang dengan motif Mega Mendung khas batik Cirebon.

Posisi proyek saat ini

Status Masih dibangun. Belum dibuka untuk penumpang.
Pelaksana PT Hutama Karya (Persero), BUMN konstruksi
Lokasi Di antara Terminal 1 dan Terminal 2
Luas lahan 18.487 m²
Luas bangunan Sekitar 60.000 m²
Tata letak Gedung Sayap Selatan dua lantai; Gedung Sayap Utara tiga lantai termasuk mezanin
Moda yang akan dihubungkan Skytrain, kereta bandara, kendaraan pribadi, taksi, bus, shuttle bus, travel antarkota
Fasilitas Parkir, zona antar-jemput, ruang tunggu, area komersial
Target Mulai beroperasi Februari 2027 — disampaikan Hutama Karya
Belum diumumkan Tanggal mulai, progres, nilai kontrak, jadwal versi pengelola bandara, denah lokasi

Semua pemberitaan yang kami temukan bersumber dari keterangan Hutama Karya yang sama. Artinya fakta intinya kuat — perusahaan yang membangunnya menyampaikannya secara resmi — tetapi juga hanya ada satu suara. Kami tidak menemukan pernyataan dari InJourney Airports, pengelola Soekarno-Hatta, soal jadwal operasi versi mereka, siapa yang akan mengelola gedung ini, atau perusahaan transportasi mana yang akan pindah ke sana.

Ada pula sedikit perbedaan istilah dalam pemberitaan. Sebagian besar media menulis Februari 2027 sebagai target gedung mulai beroperasi; Warta Ekonomi dan VOI menulisnya sebagai target rampung. Di bandara, keduanya tidak sama: gedung yang sudah selesai biasanya masih butuh berminggu-minggu uji coba, kesepakatan dengan operator, dan pemasangan rambu sebelum penumpang diarahkan ke sana.

Masalah yang hendak diatasi

Siapa pun yang pernah mencari bus yang tepat setelah mendarat di CGK pasti paham masalahnya. Transportasi darat Soekarno-Hatta tumbuh terminal demi terminal, sehingga letaknya tersebar:

  • Kereta bandara tidak berhenti di terminal mana pun. Stasiunnya ada di antara Terminal 1 dan 2, dan dicapai dengan Skytrain — satu kali pindah lagi, sambil membawa koper, sebelum naik kereta.
  • Bus DAMRI dan shuttle seperti Cititrans berhenti di tiap terminal secara terpisah, dan halte yang benar tergantung di terminal mana Anda berada.
  • Rute bandara TransJakarta berhenti di kawasan perkantoran bandara, sehingga perlu jalan kaki atau naik shuttle dari terminal.
  • Taksi, ojek/taksi online, dan mobil pribadi memakai curbside dan parkir di terminal tempat Anda mendarat, dengan titik jemput yang berbeda-beda.

Akibatnya, jawaban atas pertanyaan “bagaimana ke X?” di CGK hampir selalu diawali “Anda di terminal berapa?”. Simpul antarmoda adalah solusi yang lazim: satukan semua moda di satu gedung, yang bisa dicapai dengan Skytrain dari terminal mana pun, sehingga penumpang cukup tahu satu tempat. Apakah gedung ini berhasil mewujudkannya bergantung pada detail yang belum dipublikasikan — terutama apakah operator bus dan shuttle benar-benar memindahkan halte mereka ke sana.

Terminal 3 dan stasiun kereta

Dua pertanyaan yang pasti muncul di benak penumpang, dan keduanya belum terjawab dalam informasi yang sudah terbit.

Apakah stasiun kereta bandara pindah? Tidak ada pemberitaan yang menyebut demikian. Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta, dengan halte Skytrain di lantai atasnya, sudah berada di antara Terminal 1 dan 2, dan kereta maupun Skytrain termasuk moda yang dihubungkan gedung baru. Tafsiran paling masuk akal: gedung ini dibangun untuk tersambung ke stasiun yang ada, bukan menggantikannya. Itu kesimpulan kami; belum ada denah atau pernyataan pengelola yang memastikannya.

Bagaimana dengan Terminal 3? Terminal 3, hub Garuda Indonesia dan tempat sebagian besar maskapai internasional full-service, sama sekali tidak disebut. Saat ini Terminal 3 terhubung ke terminal lain dan stasiun lewat Skytrain, dan karena Skytrain termasuk tujuh moda gedung ini, kemungkinan besar itulah jalur penumpang Terminal 3 ke sana. Belum ada jembatan penghubung atau akses baru yang diumumkan.

Sekarang dibanding setelah dibuka

Rute Sekarang, sampai gedung dibuka Jika dibuka sesuai rencana
Antarterminal Skytrain Kalayang gratis antara T1, T2, dan T3, sekitar setiap 13 menit, kira-kira pukul 04.30–00.20 WIB. Skytrain tetap jalan; gedung ini dirancang menjadi salah satu titik yang terhubung dengannya. Tidak ada perubahan Skytrain yang diumumkan.
Terminal ke kereta bandara Skytrain ke Stasiun Kereta Bandara di antara T1 dan T2, lalu kereta (sekitar 52 menit ke Manggarai, sekitar Rp 70.000). Kereta dan Skytrain termasuk tujuh moda gedung ini. Apakah stasiunnya sendiri berubah belum disebutkan.
Bus dan shuttle DAMRI dan shuttle berhenti di tiap terminal; TransJakarta berhenti di kawasan perkantoran bandara, perlu jalan kaki atau shuttle dari terminal. Bus, shuttle, dan travel antarkota direncanakan berkumpul di satu tempat. Operator mana yang pindah, dan apakah halte di terminal tetap ada, belum diketahui.
Taksi dan mobil pribadi Antar-jemput di curbside dan pangkalan tiap terminal; parkir per terminal. Gedung menambah parkir dan zona antar-jemput. Apakah curbside terminal berubah belum disebutkan.

Soal target Februari 2027

Anggap itu target, bukan janji. Target itu disampaikan kontraktor, bukan pengelola bandara, dan tanpa informasi kapan pembangunan dimulai atau berapa persen progresnya, sehingga dari luar sulit menilai seberapa realistis. Empat bulan dari pengumuman hingga beroperasi tergolong ketat untuk gedung 60.000 m² yang harus tersambung ke stasiun kereta, people mover, dan jalan-jalan bandara.

Jadwal pembangunan bandara lazim mundur, di Indonesia maupun di tempat lain, dan simpul seperti ini juga bergantung pada hal di luar kendali kontraktor: kesepakatan dengan operator bus dan shuttle, rekayasa lalu lintas baru, serta rambu di tiga terminal. Jika Anda bepergian pada Februari atau Maret 2027, cek dulu sebelum berangkat, jangan berasumsi gedungnya sudah buka. Artikel ini akan kami perbarui begitu pengelola bandara menyampaikan informasi soal pembukaannya.

Apa artinya bagi perjalanan Anda

  • Sebelum 2027: tidak ada yang berubah. Pindah terminal dan menuju kereta tetap dengan Skytrain Kalayang, dan pakai panduan transportasi bandara ke Jakarta untuk bus, shuttle, dan taksi. Tidak ada halte atau titik jemput yang pindah.
  • Sisihkan waktu untuk Skytrain. Gratis dan lewat kira-kira setiap 13 menit, sekitar pukul 04.30–00.20 WIB. Jika Anda mengejar kereta atau pindah terminal, sediakan 15–20 menit untuk menunggu dan perjalanannya.
  • Pastikan terminal Anda dulu. Selama belum ada satu simpul, terminal Anda masih menentukan di mana bus, shuttle, atau penjemput menunggu. Papan keberangkatan dan kedatangan menampilkannya untuk penerbangan Anda.
  • Mulai Februari 2027: cek dulu. Jika simpul ini dibuka, operator mungkin memindahkan titik jemputnya ke sana. Tanyakan ke operator bus, shuttle, atau penjemput Anda lokasi mana yang mereka pakai.

Yang belum diketahui

  • Kapan pembangunan dimulai, dan sudah sejauh mana.
  • Nilai kontrak, dan siapa pemberi kerjanya.
  • Apakah InJourney Airports, pengelola CGK, mendukung target Februari 2027.
  • Operator bus, shuttle, taksi, dan travel mana yang akan pindah, dan apakah halte di terminal tetap ada.
  • Bagaimana persisnya gedung ini tersambung ke stasiun kereta dan halte Skytrain yang ada.
  • Akses untuk Terminal 3 selain Skytrain yang sudah ada.
  • Tarif parkir di gedung ini dibanding parkir terminal.

Tanya jawab

Apakah Integrated Building sudah bisa dipakai?

Belum. Gedung ini masih dibangun. Kontraktornya, BUMN konstruksi PT Hutama Karya, menyebut gedung ini ditargetkan mulai beroperasi pada Februari 2027. Sampai gedung itu dibuka, tidak ada yang berubah dari cara Anda berpindah antarterminal, ke kereta bandara, taksi, maupun bus di Bandara Soekarno-Hatta.

Apakah ini memengaruhi penerbangan atau perpindahan saya sebelum 2027?

Tidak. Penerbangan, terminal, Skytrain Kalayang yang gratis, kereta bandara, pangkalan taksi, dan halte bus semuanya berjalan seperti biasa. Belum ada pengumuman penutupan, pengalihan jalur, atau pemindahan titik jemput terkait pembangunan ini. Rencanakan perjalanan Anda persis seperti bulan lalu.

Siapa yang menyebut target Februari 2027?

Hutama Karya selaku kontraktor, dalam keterangan yang diberitakan pada Sabtu 26 September 2026 dan disampaikan oleh Hamdani, Pj. EVP Sekretaris Perusahaan. Kami tidak menemukan pernyataan terpisah dari pengelola bandara, InJourney Airports, yang menegaskan tanggal itu. Sebagian media menulis Februari 2027 sebagai target rampung, sebagian lagi sebagai target mulai beroperasi; kutipan pernyataannya berbunyi “ditargetkan mulai beroperasi”.

Tepatnya di mana lokasinya?

Di antara Terminal 1 dan Terminal 2, di atas lahan 18.487 m². Itu kawasan yang sama dengan Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta dan halte Skytrain-nya saat ini. Belum ada denah yang dipublikasikan yang menunjukkan posisi persis gedung baru terhadap stasiun.

Apakah stasiun kereta bandara akan pindah?

Tidak ada satu pun pemberitaan yang menyebut begitu. Skytrain dan kereta bandara termasuk dalam tujuh moda yang akan dihubungkan gedung ini, dan stasiun yang ada sudah terletak di antara Terminal 1 dan 2. Ini mengisyaratkan gedung baru dirancang untuk tersambung ke stasiun, bukan menggantikannya. Namun itu tafsiran kami, bukan rencana yang sudah diumumkan.

Bagaimana dengan Terminal 3?

Pemberitaan tidak menyinggungnya sama sekali. Saat ini Skytrain Kalayang yang gratis menghubungkan Terminal 3 dengan Terminal 1, Terminal 2, dan stasiun kereta. Karena Skytrain termasuk moda yang dihubungkan gedung baru, kemungkinan besar itulah jalur penumpang Terminal 3 ke sana. Belum ada konfirmasi soal jembatan penghubung atau akses lain.

Apa saja isinya?

Menurut Hutama Karya: area parkir, zona antar-jemput, ruang tunggu penumpang, dan area komersial, tersebar di Gedung Sayap Selatan dua lantai dan Gedung Sayap Utara tiga lantai termasuk mezanin — total sekitar 60.000 m². Operator bus, shuttle, dan taksi mana yang akan pindah ke gedung ini belum diumumkan.

Bagaimana cara berpindah terminal dan moda sekarang?

Naik Skytrain Kalayang gratis yang menghubungkan Terminal 1, 2, 3, dan Stasiun Kereta Bandara, kira-kira setiap 13 menit dari sekitar pukul 04.30 hingga 00.20 WIB. Kereta bandara ke Manggarai butuh sekitar 52 menit dengan tarif sekitar Rp 70.000. Bus DAMRI dan shuttle berhenti di masing-masing terminal; taksi dan ojek/taksi online menjemput di titik masing-masing terminal. Lihat halaman Skytrain dan panduan transportasi bandara ke Jakarta kami untuk detailnya.

Baca juga